Rabu, 11 Februari 2015

Cara Menghitung Ukuran / Dimensi Pondasi Menerus

Cara Menghitung Ukuran / Dimensi Pondasi Menerus

Hitungan pondasi harus dibuat dan direncanakan pada keadaan yang paling aman bagi konstruksi bangunan tersebut, artinya beban bangunan yang dipakai harus yang terbesar dan sebaliknya kekuatan daya dukung tanah di bawah pondasi dipakai yang terkecil.

Rumus Pondasi =P / σ t

Keterangan:


P = Beban bangunan yang didukung oleh pondasi, yaitu:
  1. Berat pasangan bata termasuk kolom praktisnya
  2. Berat Atap
  3. Berat Plafond
  4. Berat Balok Sloof, dan Balok Keliling Atas
  5. Berat sendiri Pondasi
  6. Berat tanah di atas Pondasi

Untuk menghitung berat konstruksi dari bangunan dan bahannya, dipakai Peraturan Muatan Indonesia, NI – 18.
  1. Berat pasangan bata dengan perekat 1kp : 1pc : 2ps adalah 1.700 kg/m3.
  2. Bila dipakai perekat 1pc : 2ps : beratnya 2.000 kg/m3.
  3. Untuk pasangan bata dengan perekat campuran kapur dan semen atau sebagian pakai perekat kapur dan sebagian lagi dengan perekat semen dapat dipakai berat rata-rata 1.800 kg/m3. Berat ini sudah termasuk plesterannya, jadi tebal pasangan bata yang dipakai adalah15 cm untuk pasangan ½ batu dan 30 cm untuk pasangan 1 batu, Kurang dari ukuran tersebut, Kolom praktis dapat dianggap sebagai berat pasangan bata.
  4. Untuk balok sloof dan balok keliling dari konstruksi beton bertulang dipakai berat = 2.400 kg/m3.
  5. Penutup atap dari genteng+usuk+reng = 50 kg/m2, bila termasuk gordingnya dipakai berat = 110 kg/m2.
  6. Penutup atap sirap+usuk+reng = 40 kg/m2.
  7. Penutup asbes+gording = 50 kg/m2.
  8. Berat kuda-kuda kayu = 60 kg/m.
  9. Berat plafond eternit+penggantung = 20 kg/m2.
  10. Berat pondasi batu belah/kali = 2.200 kg/m3.
  11. Tanah kering – udara lembab = 1.700 kg/m3, tanah basah = 2.000 kg/m3, berat ini berlaku juga untuk pasir.
  12. Berat lantai tidak diperhitungkan sebagai beban pondasi karena langsung didukung oleh tanah di bawahnya.

σt = kemampuan daya dukung tanah yang diijinkan untuk dipakai mendukung beban bangunan di atasnya.


Apabila tidak dilakukan penyelidikan tanah untuk mengetahui kekuatannya, maka daya dukung tanah yang boleh dipakai sebesar-besarnya adalah 1 kg/cm2 (= 10 t/m2). Kemampuan daya dukung tanah yang dipakai adalah yang terletak langsung di bawah pondasi.

Kita mungkin pernah mendengar bermacam-macam Jenis Tanah, ada Tanah Sangat Lembek, Lembek, Keras, Sangat Keras, dan sebagainya. Klasifikasi ini berdasarkan Kekuatan Daya Dukung Tanah tersebut, yang bisa didapat dengan Uji Kuat Tekan Tanah (Uji Penetrasi atau disebut juga Uji Sondir).

Berdasarkan Percobaan Uji Sondir (Standard Penetration Test, SPT), Nilai Daya Dukung Tanah untuk Jenis Tanah yang berbeda-beda Besar nya tidak sama (bervariasi), seperti dapat kita lihat pada Tabel dibawah ini.

Keadaan Konsistensi Tanah Daya Dukung Tanah (kg/cm2)

  • Sangat Lembek   σt = 0,0 - 0,3
  • Lembek   σt = 0,3 - 0,6
  • Sedang   σt = 0,6 - 1,2
  • Keras   σt = 1,2 - 2,4
  • Sangat Keras   σt = 2,4 - 4,8
  • Keras Sekali   σt > 4,8  
Ukuran luas dasar pondasi yang direncanakan akan dipakai. Untuk ukuran bagian atas pondasi:
  • ½ batu minimum = 20 cm
  • 1 batu minimum = 30 cm
Untuk pondasi menerus hanya ditinjau setiap 1 m panjang pondasi, jadi yang dimaksud F disini adalah = lebar pondasi bawah x 1 m. Misalnya:
  • Beban bangunan setiap m panjang (P) = 5 t/m'
  • Daya dukung tanah yang diijinkan (σt) = 0,8 kg/cm2.
  • F pondasi = (5000 t/m)' / (8000 kg/m2) = 0,625 m
  • Dipakai lebar pondasi b = 0,7m (selalu dibulatkan keatas).
Diatas pondasi batu kali biasanya di buat Sloof, yaitu pasangan beton bertulang yang akan mengikat konstruksi tiang tiang beton yang kemudian disalurkan secara merata ke pondasi batu kali ini. Sloof untuk rumah 1 lantai biasanya berukuran 15/20 cm, dan untuk rumah 2 lantai biasanya berukuran 20/30.

Untuk kondisi tanah yang stabil, sistem pondasi Batu Kali ini cukup memadai untuk memikul beban konstruksi diatasnya, dan sistem pondasi ini biasanya dipakai untuk bangunan 1 lantai, dan untuk bangunan 2 lantai umumnya akan di tambah pondasi Telapak atau Pondasi Cakar Ayam di titik titik struktural.
 

Sumber : Menghitung Ukuran, Dimensi Pondasi Menerus Batu Kali | Home Design and Ideas http://www.hdesignideas.com/2014/01/menghitung-ukuran-dimensi-pondasi.html#ixzz3RVgWiaPa
Under Creative Commons License: Attribution

Rabu, 04 Februari 2015

6 kastil yang indah di eropa

Benua biru, Eropa memiliki bangunan-bangunan indah yang dibangun sejak masa para raja berkuasa, khususnya kastil yang menjadi tempat tinggal keluarga kerajaan. Bangunan-bangunan tersebut memiliki catatan historis yang panjang, serta keindahan arsitektur yang luar biasa
Diketahui, terdapat 6 kastil di Eropa yang dibangun dengan desain arsitektur yang sangat indah. Bagi Anda yang ingin menikmati langsung keindahannya, Anda juga dapat berwisata ke kastil-kastil ini, karena sebagian kastil ini memang telah dipersiapkan bagi para wisatawan. Dikutip dari Female First, berikut adalah 6 kastil paling indah di Eropa :

 
1. Neuschwanstein Castle Jerman
1. Neuschwanstein Castle, Jerman
Kastil Neuschwanstein di Desa Hohenschwangau, di barat daya Bavaria, Jerman disebut oleh banyak turis bagaikan berkunjung ke kastil di negeri dongeng. Terletak di atas bukit menambah kesan anggun kastil, selain arsitektur kuno Eropa abad 19 yang masih melekat di kastil ini.
Wisatawan yang masuk ke dalam akan disuguhkan dengan interior mewah khas kerajaan pada masa itu. Lampu kristal, karpet tebal, gorden lembut dan perabotan kayu antik masih menghiasi bagian dalam kastil. Anda pun dapat masuk ke dalam kamar-kamar yang dulu diperuntukan bagi para penguasa dimasanya.
Website : http://www.neuschwanstein.de/englisch/tourist/index.htm

Neuschwansteinstraße 20, 87645 Schwangau, Germany (+49 8362 930830)

2. Edinburgh Castle Skotlandia
2. Edinburgh Castle, Skotlandia
Terkenal sebagai salah satu atraksi wisata paling ramai di Skotlandia, Kastil Edinburgh sangat menarik perhatian karena arsitekturnya yang megah. Tidak hanya itu, menambah kesan gahar, kastil inipun terletak di atas bukit batu vulkanik.
Wisatawan pun dapat mempelajari sejarah dan budaya Skotlandia dengan berkeliling kastil. Bahkan, wisatawan yang berkunjung pun dapat menikmati pemandangan indah Skotlandia dari atas kastil ini.
3. Bran Castle Rumania
3. Bran Castle, Rumania
Kastil Bran di Bran, Rumania, menjadi kunjungan wajib bagi para pencinta kisah drakula. Keberadaan kastil ini selalu diselimuti dengan kisah horor. Oleh karena itu, sisi misterius Kastil Bran, menjadikannya sebagai tempat wisata paling terkenal di Rumania sekaligus daya tarik utama bagi para wisatawan yang berkunjung.
Website : http://www.bran-castle.com/
4. Windsor Castle Inggris
4. Windsor Castle, Inggris
Kastil Windsor yang terletak di Windsor, Inggris, adalah salah satu kastil tertua dan terbesar di dunia yang hingga kini masih ditempati. Kastil Windsor, hingga saat ini masih menjadi tempat tinggal resmi Yang Mulia Ratu Inggris.
Oleh karena itu, kastil ini tidak dibuka bagi pengunjung umum. Namun, meski dari luar saja, wisatawan yang berkunjung masih tetap dapat menikmati kemewahan dan kemegahan kastil ini.
Website : http://www.windsor.gov.uk/things-to-do/windsor-castle-p43983

WINDSOR, WINDSOR AND MAIDENHEAD SL4 1NJ, UNITED KINGDOM (+44 20 7766 7304)

5. Vianden Castle Luxembourg
5. Vianden Castle, Luxembourg
Kesan pertama ketika Anda melihat Kastil Vianden, pasti langsung teringat tentang kastil ala kartun Disney. Kastil ini sangat mirip dengan kastil-kastil yang sering digambarkan dalam film animasi anak-anak tersebut. Kastil ini memiliki atap biru muda dan juga tembok yang terlihat kokoh berwarna cokelat muda.
Diketahui, arsitektur Kastil Vianden terinspirasi dari gaya bangunan Rumania pada abad ke-11. Anda yang mengunjunginya dimasa kini, masih tetap dapat menikmati gaya klasik yang tetap dipertahankan hingga saat ini.
Website : http://www.castle-vianden.lu/english/

Montée du Château, 9422 Vianden, Luxembourg (+352 83 41 08 1)

6. Prague Castle Republik Ceko
6. Prague Castle, Republik Ceko
Kastil Prague di Praha, adalah kompleks istana terbesar di dunia. Terletak di Republik Ceko, dengan luas hampir mencapai 70.000 meter persegi, kastil ini berhasil menorehkan rekor di Guinness Book of World Records.
Kastil Prague juga memiliki keindahan dengan arsitektur bergaya gothik. Cahaya lampu ketika malam hari, akan menerangi kastil ini dan membuat keanggunannya semakin mempesona.

arsitektur islam di barat (masjid eropa)

 

Arsitektur Islam di Barat  (Masjid di Eropa)

 

Arsitektur Islam dapat dikatakan identik dengan arsitektur masjid. Sebab, ciri-ciri arsitektur Islam dapat terlihat jelas dalam perkembangan arsitektur masjid Islam pernah mengalami kejayaan di Eropa yang dimulai dari Andalusia, Spanyol bagian selatan, pada masa pemerintahan bani Umayah yaitu tahun 711 masehi atau 97 hijriah.
Salah satu bangunan terkenal yang menjadi saksi kejayaan itu adalah Alhambra yang terletak di kota Granada dan Masjid Cordoba yang terletak di Cordoba. Kedua kota tersebut berada di Andalucia, Spanyol. Pembangunan kedua bangunan tersebut didesain tidak lepas dari seni islam yang berkembang pada saat itu.
Kesenian islam yang dimaksud, menurut Prisse (1878) dalam Rabah (2004) terbagi dalam 3 bagian, yaitu bunga, geometri, dan kaligrafi. Ketiga seni islam tersebut yang menghiasi ruang dalam dan fasade bangunan.
Pada bangunan-bangunan Islam di Andalucia, implementasi seni geometri lebih dominan dibandingkan dengan kedua kesenian yang lain. Begitu juga pada teknik pembuatan denah, fasade, dan ornamen-ornamen yang menghiasi ruang dalam bangunan, teknik geometri sangat ditekankkan sehingga kesan simetris sangat terlihat.
Aya Sofia
Kini namanya Museum Aya Sofia. Sebelum menjadi museum, bangunan ini dulunya adalah masjid. Dan sebelum menjadi masjid, ia adalah gereja yang bernama Haghia Sopia. Usia bangunan ini sudah sangat tua, sekitar lima abad. Bangunan ini merupakan kebanggaan masyarakat Muslim di Istanbul, Turki.
Keindahan arsitekturnya begitu mengagumkan para pengunjung. Karenanya, jika berkunjung ke Istanbul, belum lengkap tanpa melihat kemegahan Aya Sofia.
Tampak dari luar, pengunjung disuguhkan ukuran kubah yang begitu besar dan tinggi. Ukuran tengahnya 30 meter, tinggi dan fundamennya 54 meter. Ketika memasuki area bangunan, pengunjung dibuai oleh keindahan interior yang dihiasi mosaik dan fresko.
Tiang-tiangnya terbuat dari pualam warna-warni. Sementara dindingnya dihiasi beraneka ragam ukiran. Selain keindahan interior, daya tarik bangunan ini juga didapat dari nilai sejarahnya. Di sinilah simbol pertarungan antara Islam dan non-Islam, termasuk di dalamnya nilai-nilai sekuler pascaruntuhnya Kekhalifahan Turki Usmani.
 
Gereja
Sebelum diubah menjadi masjid, Aya Sofia adalah sebuah gereja bernama Hagia Sophia yang dibangun pada masa Kaisar Justinianus (penguasa Bizantium), tahun 558 M. Arsitek Gereja Hagia Sophia ini adalah Anthemios dari Tralles dan Isidorus dari Miletus.
Berkat tangan Anthemios dan Isidorus, bangunan Hagia Sophia muncul sebagai simbol puncak ketinggian arsitektur Bizantium. Kedua arsitek ini membangun Gereja Hagia Sophia dengan konsep baru. Hal ini dilakukan setelah orang-orang Bizantium mengenal bentuk kubah dalam arsitektur Islam, terutama dari kawasan Suriah dan Persia. Keuntungan praktis bentuk kubah yang dikembangkan dalam arsitektur Islam ini, terbuat dari batu bata yang lebih ringan daripada langit-langit kubah orang-orang Nasrani di Roma, yang terbuat dari beton tebal dan berat, serta mahal biayanya.
Oleh keduanya, konsep kubah dalam arsitektur Islam ini dikombinasikan dengan bentuk bangunan gereja yang memanjang. Dari situ kemudian muncullah bentuk kubah yang berbeda secara struktur, antara kubah Romawi dan kubah Bizantium. Pada arsitektur Romawi, kubah dibangun di atas denah yang sudah harus berbentuk lingkaran, dan struktur kubahnya ada di dalam tembok menjulang tinggi, sehingga kubah itu sendiri hampir tidak kelihatan. Sedangkan kubah dalam arsitektur Bizantium dibangun di atas pendentive–struktur berbentuk segitiga melengkung yang menahan kubah dari keempat sisi denah persegi–yang memungkinkan bangunan kubah tersebut terlihat secara jelas.
Bangunan gereja ini sempat hancur beberapa kali karena gempa, kemudian dibangun lagi. Pada 7 Mei 558 M, di masa Kaisar Justinianus, kubah sebelah timur runtuh terkena gempa. Pada 26 Oktober 986 M, pada masa pemerintahan Kaisar Basil II (958-1025), kembali terkena gempa. Akhirnya, renovasi besar-besaran dilakukan agar tak terkena gempa di awal abad ke-14.
Pengembangan Turki Usmani
Pada 27 Mei 1453, Konstantinopel takluk oleh tentara Islam di bawah pimpinan Muhammad II bin Murad II atau yang terkenal dengan nama Al-Fatih yang artinya sang penakluk. Saat berhasil menaklukkan kota besar Nasrani itu, Al-Fatih turun dari kudanya dan melakukan sujud syukur.
Ia pergi menuju Gereja Hagia Sophia. Saat itu juga, bangunan gereja Hagia Sophia diubah fungsinya menjadi masjid yang diberi nama Aya Sofia. Pada hari Jumatnya, atau tiga hari setelah penaklukan, Aya Sofia langsung digunakan untuk shalat Jumat berjamaah.
Sepanjang kekhalifahan Turki Usmani, beberapa renovasi dan perubahan dilakukan terhadap bangunan bekas gereja Hagia Sophia tersebut agar sesuai dengan corak dan gaya bangunan masjid.
Dalam sejarah arsitektur Islam, orang-orang Turki dikenal sebagai bangsa yang banyak memiliki andil dalam pengembangan arsitektur Islam ke negara-negara lainnya. Sementara dalam masalah keagamaan, orang-orang Turki terkenal sangat bijak, sebab mereka tidak memaksakan penduduk daerah taklukannya untuk masuk Islam, meskipun mereka berani berperang untuk membela Islam.
Karena orang-orang Turki yang beragama Islam cukup arif, maka ketika Gereja Hagia Sophia dialihfungsikan menjadi masjid pada 1453, bentuk arsitekturnya tidak dibongkar. Kubah Hagia Sophia yang menjulang ke atas dari masa Bizantium ini tetap dibiarkan, tetapi penampilan bentuk luar bangunannya kemudian dilengkapi dengan empat buah menara. Empat menara ini, antara lain, dibangun pada masa Al-Fatih, yakni sebuah menara di bagian selatan. Pada masa Sultan Salim II, dibangun lagi sebuah menara di bagian timur laut. Dan pada masa Sultan Murad III, dibangun dua buah menara.
Pada masa Sultan Murad III, pembagian ruangnya disempurnakan dengan mengubah bagian-bagian masjid yang masih bercirikan gereja. Termasuk, mengganti tanda salib yang terpampang pada puncak kubah dengan hiasan bulan sabit dan menutupi hiasan-hiasan asli yang semula ada di dalam Gereja Hagia Sophia dengan tulisan kaligrafi Arab. Altar dan perabotan-perabotan lain yang dianggap tidak perlu, juga dihilangkan.
Begitu pula patung-patung yang ada dan lukisan-lukisannya sudah dicopot atau ditutupi cat. Lantas selama hampir 500 tahun bangunan bekas Gereja Hagia Sophia berfungsi sebagai masjid.
Akibat adanya kontak budaya antara orang-orang Turki yang beragama Islam dengan budaya Nasrani Eropa, akhirnya arsitektur masjid yang semula mengenal atap rata dan bentuk kubah, kemudian mulai mengenal atap meruncing. Setelah mengenal bentuk atap meruncing inilah merupakan titik awal dari pengembangan bangunan masjid yang bersifat megah, berkesan perkasa dan vertikal. Hal ini pula yang menyebabkan timbulnya gaya baru dalam penampilan masjid, yaitu pengembangan lengkungan-lengkungan pada pintu-pintu masuk, untuk memperoleh kesan ruang yang lebih luas dan tinggi.
Museum
Perubahan drastis terjadi di masa pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk di tahun 1937. Penguasa Turki dari kelompok Muslim nasionalis ini melarang penggunaan bangunan Masjid Aya Sofia untuk shalat, dan mengganti fungsi masjid menjadi museum. Mulailah proyek pembongkaran Masjid Aya Sofia. Beberapa desain dan corak bangunan yang bercirikan Islam diubah lagi menjadi gereja.
Sejak difungsikan sebagai museum, para pengunjung bisa menyaksikan budaya Kristen dan Islam bercampur menghiasi dinding dan pilar pada bangunan Aya Sofia. Bagian di langit-langit ruangan di lantai dua yang bercat kaligrafi dikelupas hingga mozaik berupa lukisan-lukisan sakral Kristen peninggalan masa Gereja Hagia Sophia kembali terlihat.
Sementara peninggalan Masjid Aya Sofia yang menghiasi dinding dan pilar di ruangan lainnya tetap dipertahankan.
Sejak saat itu, Masjid Aya Sofia dijadikan salah satu objek wisata terkenal di Istanbul oleh pemerintah Turki. Nilai sejarahnya tertutupi gaya arsitektur Bizantium yang indah memesona.
Menjadi Inspirasi dalam Perkembangan Arsitektur Islam
Salah satu masjid yang gaya arsitekturnya banyak ditiru oleh para arsitek Muslim dalam membangun masjid di berbagai wilayah kekuasaan Islam adalah Masjid Aya Sofia di Istanbul, Turki.
Desain dan corak bangunan Aya Sofia sangat kuat mengilhami arsitek terkenal Turki Sinan (1489-1588) dalam membangun masjid. Sinan merupakan arsitek resmi kekhalifahan Turki Usmani dan posisinya sejajar dengan menteri.
Kubah besar Masjid Aya Sofia diadopsi oleh Sinan–yang kemudian diikuti oleh arsitek muslim lainnya–untuk diterapkan dalam pembangunan masjid.
Salah satu karya terbesar Sinan yang mengadopsi gaya arsitektur Aya Sofia adalah Masjid Agung Sulaiman di Istanbul yang dibangun selama 7 tahun (1550-1557). Seperti halnya Aya Sofia, masjid yang kini menjadi salah satu objek wisata dunia itu memiliki interior yang megah, ratusan jendela yang menawan, marmer mewah, serta dekorasi indah.
Dalam sejarah arsitektur Islam, orang-orang Turki dikenal sebagai bangsa yang banyak memiliki andil dalam pengembangan arsitektur Islam hingga ke negara lainnya. Misalnya Dinasti Seljuk yang menampilkan tiga ciri arsitektur Islam, khususnya arsitektur masjid.
Pertama, Dinasti Seljuk tetap mengembangkan konsep mesjid asli Arab, dengan lapangan terbuka di bagian tengahnya. Kedua, konsep masjid madrasah dan berkubah juga dikembangkan. Ketiga, mengembangkan konsep baru setelah berkenalan dengan kebudayaan Barat, terutama pada masa Dinasti Umayyah.
Ketika orang-orang Turki memperluas kekuasaannya atas dasar kepentingan ekonomi dan militer pada abad ke-11, mereka akhirnya bisa menguasai Bizantium.
Saat kebudayaan Islam bersentuhan dengan kebudayaan Eropa di Kerajaan Romawi Timur (Bizantium/Konstantinopel) pada abad ke-11, arsitektur Islam juga menimba teknik dan bentuk arsitektur Eropa, yang tumbuh dari arsitektur Yunani dan Romawi. Sebaliknya, teknik dan bentuk arsitektur Islam yang dibawa oleh bangsa Turki juga disadap oleh bangsa Romawi untuk dikembangkan di Kerajaan Romawi Timur.
Akibat adanya kontak budaya antara orang-orang Muslim Turki dan budaya Nasrani di Eropa Timur inilah, arsitektur Islam yang semula hanya mengenal atap bangunan rata dan bentuk kubah, kemudian mulai mengenal atap meruncing ke atas. Selain itu, sejak bersentuhan dengan kebudayaan Kerajaan Romawi Timur ini juga, arsitektur Islam mulai mengenal arsitektur yang bersifat megah, berkesan perkasa, dan vertikalisme.(rpb)
Masjid Cordoba

Selama 33 tahun pemerintahannya, Abdul Rahman menjadikan Cordoba sebagai pusat pemerintahan. Pada tahun 785, Abdul Rahman merancang sebuah rancangan masjid besar yang akan menjadi salah satu masterpiece arsitektur klasik Islam terbesar di daratan Eropa. Masjid itu terkenal dengan sebutan Masjid Cordoba. Pada awalnya Abdul Rahman hanya membangun masjid seluas 70 meter firkan (m²) bangunan di atas tanah seluas 5.000 meter firkan yang berbentuk pelataran (mengikuti tradisi bangunan Islam lainnya). Hall hypostyle ini memiliki sebelas ruangan besar yang tegak lurus terhadap arah kiblat.
Tiap-tiap ruangan itu dipisahkan atau dibatasi oleh 11 deretan arcade yang atapnya mempunyai lengkungan-lengkungan. Setiap deretan mempunyai 11 tiang kolom sehingga masing-masing ruangan seolah-olah memiliki 20 tiang kolom. Jumlah tiang-tiang kolom itu seluruhnya 110 tiang kolom. Tiang-tiang kolom tersebut merupakan tiang-tiang antik zaman Romawi, yang disimpan Kerajaan Visighot semasa kerajaan itu menjadi sekutu Romawi (saat berkuasa).
Hal ini mirip dengan apa yang dilakukan Khalifah al-Walid, leluhur Abdul Rahman. Tatkala membangun Masjid Damaskus, Abdul Rahman mendatangkan batu-batu pualam dari Narbonne, Seville dan Konstantinopel (sekarang Istambul). Kini, panjang Masjid Cordoba dari utara ke selatan 175 meter dan lebarnya dari timur ke Barat 134 meter.
Sedangkan tingginya mencapai 20 meter. Tidak semua bangunan diberi atap. Ada bagian-bagian tertentu yang sengaja dibuat terbuka agar cahaya dan udara segar bisa masuk ke dalam masjid. Bahkan, cahaya yang masuk dibuat sedemikian sehingga langsung masuk ke ruang shalat pratama (utama), yang atapnya dibuat dari kayu-kayu pilihan.
Pada masa pemerintahan Hisyam I (788-796) dan juga al-Hakam I (796-822), Masjid Cordoba sama sekali tidak mengalami modifikasi. Barulah ketika masa Abdul Rahman II (822-852), dilakukan perluasan yang pertama: menambah jumlah tiang kolom di ruangan berbentuk gaya hypostyle tersebut menjadi 200 tiang kolom. Pada saat pelaksanaan konstruksi, antara tahun 832 hingga 848 masehi diagendakan kegiatan konstruksi untuk menggeser penunjuk arah kiblat sedikit ke arah tenggara sehingga bangunan menjadi menghadap ke Ka’bah.
Namun, jumlah ruangan besar, yang ada sebelas itu, tidak dirubah meski agak mengalami perluasan.
Delapan tahun kemudian, Khalifah Abdul Rahman III (912-961), yang memproklamasikan dirinya sebagai Khalifah pada tahun 929, melakukan perluasan babak kedua. Khalifah memperluas aula pada sektor barat daya dan membangun sebuah menara segi empat setinggi 34 meter pada tepi halaman pelataran. Beberapa tahun kemudian, al-Hakam II (961-976) melanjutkan modifikasi atas masjid dengan memberikan sentuhan monumental: mengubah bentuk ruang shalat di depan mihrab dari ruang terbuka biasa menjadi satu lajur yang membujur. Lebarnya masih 70 meter, namun panjangnya menjadi 115 meter dengan 320 tiang kolom.
Abdul Rahman III juga merobohkan menara yang dibangun oleh Khalifah Hasyim I dan menggantinya dengan menara baru yang lebih tinggi dan lebih mewah. Pembangunannya menggunakan tenaga al-Muntasir, seorang ahli mosaik dari Konstantinopel. Dengan demikian, maka saat itu terdapat 32 lorong dan sebuah mihrab di bawah atap kupola (atap kubah) berbentuk segi delapan yang lebih tinggi dari tiga kupola lain yang letaknya berhadap-hadapan satu sama lain.
Karakter inilah yang menjadi kekhasan karakter asli Masjid Cordoba. Di muka mihrab terdapat empat tiang yang berseberangan: dua di antaranya terbuat dari batu pualam berwarna hijau dan yang dua lagi berwarna biru langit.
Dalam ruang mihrab ini dibuat tujuah buah arcade (semacam lorong beratap) yang ditopang oleh tiang-tiang yang mempunyai kapitel berhiaskan ornamen timbul yang sangat halus buatannya.
Di sebelah kiri mihrab terdapat khazanah: ruangan tempat menyimpan harta kekayaan masjid. Mimbar masjid, pada mihrab, terbuat dari bahan-bahan yang mahal harganya. Bahkan, pembuatannya saja memakan waktu tujuh tahun.
Di bagian utara ruangan Mihrab, terdapat saumaah: tempat i’tikaf dan zikir, yang di antaranya terdapat ruangan dengan empat buah pintu sebagai tempat muazin (yang sempat berjumlah 16 orang).
Ruangan yang berada di arah kiblat ini memiliki lebar 7 meter dan tinggi 16 meter dengan mihrab di tengah-tengahnya.
Masjid Cordoba memiliki 20 buah gapura berlapis tembaga yang berukiran hiasan tulisan Arab. Salah satu gapura dinamai Bab al-Manarah. Gapura yang memiliki tinggi 10 meter dan lebar 8 meter ini merupakan salah satu gapura masjid terindah di dunia.
Elemen Masjid Gaya Spanyol
Kini, kita kembali kepada elemen-elemen khas bergaya Umayyah di Spanyol. .
Pada tahun 987, bangunan telah mengalami pembangunan dengan melanjutkan pemindahan kiblat kembali ke bagian tenggara bangunan dengan tujuan untuk tetap menjaga bentuk simetris bangunan. Pada saat itu, bagaimanapun juga, delapan ruangan besar telah ditambah memanjang ke arah ruang shalat di sisi sebelah kiri (arah barat laut), sehingga memerlukan 244 tiang kolom tambahan. Sejak itu, Masjid Cordoba memiliki 544 tiang kolom dan 44 pilar interior. Masjid juga ditunjang oleh 606 tiang-tiang pilar penunjang. Ruang bagian dalam ini, setelah perluasan menjadi berukuran 130 kali 115 meter firkan, kemudian tampak seperti ruang besar seperti gaya tradisi bangun ruang Islam lainnya.
Ruangan interior yang besar, dengan bentuk seperti di Masjidil Haram, memerlukan bobot yang seimbang. Ternyata kolom-kolom Visighot dan peninggalan kuno lainnya yang dikumpulkan oleh para arsitek muslim dari seantero Spanyol tidak setinggi kolom-kolom yang digunakan pada Masjid Agung Damaskus.
Maka untuk mengatasi kekurangan ini para arsitek tersebut mencoba untuk kembali kepada formula awal: bahwa inovasi terbesar dari masjid ini adalah bentuk hypostyle-nya yang menggunakan sistem dua arcade yang ditata membentuk lorong-lorong.
Kemudian, ditunjang dengan atap datar yang strukturnya berseri secara longitudinal. Siapa pun yang memasuki ’hutan tiang kolom’ pada lorong-lorong itu akan terpesona dengan berlimpahnya kolom-kolom dan lengkungan-lengkungan: yang pada setiap arah tampak seperti pemandangan barisan pepohonan, yang semakin ke belakang semakin tak terlihat dengan intensitas cahaya yang semakin berkurang. Barisan tiang-tiang kolom itu sepertinya membentuk dan mengendalikan atmosfer suasana yang tak pernah habis. Kolom-kolom itu seakan-akan bergetar jika terkena sorotan cahaya. Karakter ini sebagian besar masih bertahan hingga saat ini.
Sebelum itu, belum pernah ada pemikiran untuk membuat gaya dan karakter hypostyle seperti di Masjid Cordoba yang begitu transparan, walaupun penuh dengan tiang-tiang kolom. Biasanya, bangunan-bangunan besar kebanyakan menggunakan metode yang sangat simpel (sederhana) dalam membuat dimensi penyusunan arcade (lori-lori beratap). Tidak saja dalam bangunan-bangunan Islam tetapi juga bangunan-bangunan hypostyle pada kuil-kuil Mesir di Karnak, Luksor, Edfu dan tidak juga basilika-basilika Romawi (seperti basilika Ulpia), juga tidak di Gereja Konstantinopel yang sebetulnya bisa dijadikan sebagai pembanding terdekat.
Bentuk hypostyle ini akhirnya diterapkan selama beberapa waktu di Maghribi, yang berada di bawah kekuasaan Islam di Spanyol. Namun, keberadaan Masjid Cordoba memang sangat dipengaruhi oleh kulminasi sistem bangunan masjid yang telah diilustrasikan sebelumnya pada Masjid Amr di Fustat (sekarang Kairo) atau Masjid Agung Aghlabids di Qairawan yang di tengah-tengah masjidnya berdiri tiang utama yang mendukung 1.000 lentera. Ya, Masjid Cordoba juga mempunyai 1.000 lampu (pada tiang utama) yang tergantung pada 113 buah kandil besar.
Hiasan Dekoratif Masjid
Dekorasi Masjid Cordoba dikerjakan selama masa pemerintahan Khalifah al-Hakam II, terutama di lokasi sekitar mihrab dan maqsurah: pintu-pintu (seluruhnya ada sembilan pintu) yang terbuat dari tembaga kuning, kecuali sebuah yang terbuat dari emas murni. Maqsurah di Cordoba, secara arsitektur tergolong sangat bagus. Bentuk ini, sebenarnya bertolak belakang dengan ideologi egaliter asli seni muslim, dan sepertinya berhubungan dengan aspek arsitektur terpenting pada model arsitektur kontemporer yang terdapat pada Gereja Mozarabic di Spanyol bagian utara, di mana ruangan yang dianggap paling suci ditempatkan tersembunyi.
Di Cordoba, maqsurah ini menjadi batas paling luar dari area-area yang sama bentuk dari tiga naves yang letaknya bersinggungan dengan lengkungan multifoil, yang mempunyai banyak keistimewaan. Permainan bentuk dari arcade ini, yang bersilangan satu sama lain membentuk kesan claustrum, atau tirai tembus pandang yang menambah kesakralan masjid.
Kemegahan dekorasi pada ruang shalat, sangat menonjolkan ruang mihrab. Lubang-lubang hiasan diletakkan pada ruangan kecil berbentuk segi delapan. Konfigurasi yang menakjubkan pada mihrab tersebut menjadi pusat perhatian.
Dalam konteks ini, mihrab bukan semata sebagai merupakan simbol ritualitas semata: namun lebih sebagai akses menuju ruang sebelahnya. Namun demikian, mihrab Masjid Cordoba ‘menancap’ pada kegelapan dan terkubur bagai misteri yang susah dipahami sebagai simbol keabadian Allah. Pola tersebut kemudian, sering digunakan kembali pada bangunan-bangunan masjid di Andalusia dan Maghribi yang digunakan untuk melakukan oratori (pidato), seperti di Istana al-Ja’far di Saragosa, Masjid Agung di Tlemcen, Masjid Qarawiyn di Fez, Masjid Jami’ di Tinmal, Masjid Agung di Seville, dll.
Ruangan itu tampak lebih redup dan sahdu karena ditempatkan di belakang lengkungan tapal kuda yang mewah, yang dilapisi dengan mosaik berwarna polichrome dan warna dasar emas. Motif dekorasi pada lengkungan-lengkungan batu besar di sekitar mihrab tampaknya sangat konsisten menampilkan bentuk-bentuk abstrak dari tanaman dan buah-buahan dalam berbagai kombinasi warna yang berbeda-beda: emas, biru, dengan warna dasar merah.
Di sekitarnya, terdapat architrave segi empat berbentuk relief yang disebut alfiz, dengan karakteristik khas bahasa arsitektur Islam. Kerangka ini terkadang dihiasi dengan mosaik bermotifkan tulisan dan pahatan ayat al-Qur’an. Tulisan dua baris tersebut ditulis dalam skrip Kufic berwarna emas di atas dasar berwarna biru. Tulisan Arab yang dinamakan Kufic, berasal dari tradisi orang Kuffah: biasanya digunakan untuk menyalin ayat-ayat suci.
Gaya tulisannya mudah dikenali dengan gaya tulisan melingkar atau kadangkala persegi empat, dan kadangkala menjulang ke atas memberikan kesan yang khidmat dan monumental. Begitu juga, di sekitar mihrab dan di atas alfiz terdapat tujuh panel ornamental kecil berbentuk lengkungan berhiaskan dekorasi berbentuk daun tiga serangkai (arches) yang ditopang oleh kolom-kolom kecil.
Kerangka lengkungan yang indah bermotifkan bunga dan berlatar belakang warna emas ini menggambarkan pohon anggur dan daun-daun yang sedang mekar.
Cupola
Atap masjid yang berada di atas maqsurah tak dapat diragukan lagi merupakan elemen dekoratif dan arsitektur yang paling menarik dari masjid ini. Delapan arch langsing, yang menonjol dan berkaitan dengan rangka-rangka lain yang tengahnya membentuk pola segi delapan berdiameter 6 meter ini menunjang rangka cupola.
Bentuk dan pola lengkungan-lengkungan itu mengikuti prinsip dua bujur sangkar yang melintang satu sama lainnya, sejauh 45 derajat (pola yang sama terdapat pada Kubah al-Sakhra) di Yerussalem. Sistem seperti ini merupakan pelopor dari rangka lengkungan pada revolusi besar-besaran pola arsitektur Eropa pada periode Gothic.
Kompleksitas langit-langit seperti ini seluruhnya dihiasi dengan motif-motif mosaik yang sangat indah dengan latar belakang warna emas, yang merupakan hasil karya para seniman Byzantium, seperti dekorasi yang berada di sekeliling mihrab.
Seperti pada Kubah al-Sakhra dan Masjid Agung Damaskus, para seniman mosaik juga didatangkan dari Istambul (dulu Konstantinopel): untuk juga membuat hiasan dekoratif di Cordoba. Khalifah Al-Hakim II, menerimanya dari Kaisar Byzantium, Nicephorus II Phocas (963-969).
Maka, sejumlah kru ahli mosaik pun berdatangan untuk membuat dekorasi-dekorasi berwarna emas di seluruh kompleks masjid ini. Para seniman Kristen pun ikut dipekerjakan. Mereka membuat rancangan lansekap seperti yang telah membuat indah pelataran Masjid Damaskus.
Adanya kerjasama kebudayaan itu mungkin karena Cordoba tidak seperti penguasa Islam di Timur Dekat: bahwa situasi politik dan kegiatan-kegiatan militer tidak merusak kerja sama dan produktivitas kebudayaan (artistik) antara kekhilafahan Umayyah dan kekaisaran Byzantium.
Masjid yang terus disempurnakan hampir selama dua abad ini masih dianggap sebagai salah satu masjid yang terumit dan terindah di dunia. Masjid Cordoba adalah sebuah karya besar.
Sampai sekarang pun masih berdiri kokoh. Namun, pada saat Cordoba jatuh ke tangan penguasa Spanyol Nasrani, masjid ini pada tahun 1236 sempat diubahfungsikan menjadi sebuah gereja dengan nama La Mazquita.
 
(blog.irwan.kurniawan)

arsitektur indonesia

Arsitektur Indonesia

 Arsitektur Indonesia dipengaruhi oleh keanekaragaman budaya, sejarah dan geografi di Indonesia. Para penyerang, penjajah, dan pedagang membawa perubahan kebudayaan yang sangat memperuhi gaya dan teknik konstruksi bangunan. Pengaruh asing yang paling kental pada zaman arsitektur klasik adalah India, meskipun pengaruh Cina dan Arab juga termasuk penting. Kemudian pengaruh Eropa pada seni arsitektur mulai masuk sejak abad ke-18 dan ke-19.

 

Arsitektur Keagamaan

 

Walaupun arsitektur keagamaan tersebar luas di seluruh pelosok Indonesia, seni arsitektur ini berkembang pesat di Pulau Jawa. Pengaruh sinkretisasi agama di Jawa meluas sampai ke dalam arsitektur, sehingga menghasilkan gaya-gaya arsitektur yang berkhas Jawa untuk bangunan-bangunan ibadah agama Hindu, Buddha, Islam, dan Kristen.
Sejumlah bangunan agama seperti candi, yang seringkali berukuran besar dan didisain secara kompleks, banyak dibangun di Pulau Jawa pada zaman kejayaan kerajaan Hindu-Buda Indonesia antara abad ke-8 sampai ke-14. Candi-candi Hindu tertua yang masih berdiri di Jawa terletak di Pegunungan Dieng. Diperkirakan dahulu terdapat sekitar empat ratus candi di Dieng yang sekarang hanya tersisa delapan candi. Pada awalnya, struktur bangungan-bangunan di Dieng berukuran kecil dan relatif sederhana. Akan tetapi tingkat kemahiran arsitektur di Jawa semakin meningkat. Dalam kurun waktu seratus tahun saja kerajaan kedua Mataram telah dapat membangun kompleks candi Prambanan di dekat Yogyakarta yang dianggap sebagai contoh arsitektur Hindu terbesar dan terbagus di Jawa.
Candi Borobudur, sebagai monumen umat Buddha yang tercantum di dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO, dibangun oleh wangsa Syailendra antara tahun 750 sampai dengan 850 Masehi, tetapi kemudian ditinggalkan sesaat seketika Borobudur telah siap dibangun, merujuk pada saat mundurnya agama Buddha dan perpindahan kekuasaan ke sebelah timur Jawa. Borobodur memiliki sejumlah besar pahatan-pahatan menarik yang menampilkan cerita yang apabila dicermati mulai dari tingkat bawah sampai ke tingkat atas merupakan metafor peraihan pencerahan. Dengan mundurnya Kerajaan Mataram, sebelah timur Jawa menjadi pusat arsitektur keagamaan dengan gaya yang sangat menarik yang mencerminkan Siwaisme, Buddha dan pengaruh khas Jawa; sebuah fusi yang mencerminkan karakteristik agama di seluruh pulau Jawa.
Pada abad ke-15, Islam sudah jadi agama berkuasa di Jawa dan Sumatra, yaitu pulau-pulau yang paling banyak penduduknya. Seperti agama Hindu dan Buddha sebelumnya, pengaruh asing yang ikut agama baru ini menampung dan menafsirkan sedemikian rupa menghasilkan gaya-gaya arsitektur mesjid yang berkhas Jawa.


Arsitektur Adat

 

Arsitektur adat adalah tempat aktivitas manusia yang berhubungan dengan bangunan atau wadah aktivitas dan lingkungan yang diwarnai oleh budaya dan adat istiadat setempat. Setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai jenis arsitektur tradisional yang berbeda.
Rumah tradisional Indonesia tidak didesain oleh arsiktek. Orang desa membuat rumahnya sendiri, atau desanya menyatukan sumber untuk membangun struktur dibawah bimbingan pemimpin tukang kayu.

( Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Pengaruh kebudayan kolonial belanda pada arsitektur di indonesia

PENGARUH KEBUDAYAAN KOLONIAL BELANDA PADA ARSITEKTUR DI INDONESIA 

Gaya arsitektur kolonial di Indonesia seolah lekat dengan perjalanan panjang negeri ini dalam bingkai pembangunan menuju  kemerdekaan. Bangunan-bangunan bergaya colonial banyak tersebar diberbagai kota di tanah air. Sebagai negara bekas jajahan bangsa Eropa dan Asia seperti Belanda dan Portugis serta Jepang, pengaruh gaya  arsitektur dari negeri Belanda, Portugis serta Jepang, cukup besar terhadap perkembangan arsitektur di Indonesia. Bahkan tak jarang terjadi perpaduan diantara gaya Eropa dengan arsitektur tradisional Indonesia.

TIPOLOGI BARU
            Arsitektur kolonial merupakan sebutan singkat untuk langgam arsitektur yang berkembang selama masa pendudukan Belanda di tanah air. Masuknya unsur Eropa ke dalam komposisi kependudukan menambah kekayaan ragam arsitektur di nusantara. Seiring berkembangnya peran dan kuasa, kamp-kamp Eropa semakin dominan dan permanen hingga akhirnya berhasil berekspansi dan mendatangkan tipologi baru. Semangat modernisasi dan globalisasi (khususnya pada abad ke-18 dan ke-19) memperkenalkan bangunan modern seperti administrasi pemerintah kolonial, rumah sakit atau fasilitas militer. Bangunan-bangunan inilah yang disebut dan dikenal dengan bangunan kolonial.
            Sejarah mencatat bahwa Perkembangan Arsitektur Kolonial di Indonesia diawali oleh bangsa Eropa yang pertama kali datang ke Indonesia yakni Portugis, yang kemudian diikuti oleh Spanyol, Inggris dan Belanda. Pada mulanya kedatangan mereka dengan maksud berdagang. Mereka membangun rumah dan pemukimannya di beberapa kota di Indonesia yang biasanya terletak dekat dengan pelabuhan. Dinding rumah mereka terbuat dari kayu dan papan dengan penutup atap ijuk. Namun karena sering terjadi konflik mulailah dibangun benteng. Hampir di setiap kota besar di Indonesia. Dalam benteng tersebut, mulailah bangsa Eropa membangun beberapa bangunan dari bahan batu bata. Batu bata dan para tukang didatangkan dari negara Eropa. Mereka membangun banyak rumah, gereja dan bangunan-bangunan umum lainnya dengan bentuk tata kota dan arsitektur yang sama persis dengan negara asal mereka.
 
KOLONIAL & NEO KLASIK
            Pada saat itu, di Hindia Belanda terbentuk gaya arsitektur tersendiri yang dipelopori oleh Gubernur Jenderal HW yang dikenal dengan the Empire Style, atau The Ducth Colonial Villa: Gaya arsitektur neo-klasik yang melanda Eropa (terutama Prancis) yang diterjemahkan secara bebas. Hasilnya berbentuk gaya Hindia Belanda yang bercitra Kolonial yang disesuaikan dengan lingkungan lokal, iklim dan material yang tersedia pada masa itu.
            Bangunan-bangunan yang berkesan grandeur (megah) dengan gaya arsitektur Neo Klasik dikenal dengan Indische Architecture, karakter arsitektur ini dapat dilihat seperti : Denah simetris dengan satu lantai, terbuka, pilar di serambi depan dan belakang (ruang makan) dan didalamnya terdapat serambi tengah yang menuju ke ruang tidur dan kamar-kamar lainnya. Pilar menjulang ke atas (gaya Yunani) dan terdapat gevel atau mahkota di atas serambi depan dan belakang dan menggunakan atap perisai.
            Pada tahun 1902 sampai tahun 1920-an, secara umum, ciri dan karakter arsitektur kolonial di Indonesia pada tahun 1900-1920-an yaitu menggunakan Gevel (gable) pada tampak depan bangunan. Bentuk gable sangat bervariasi seperti curvilinear gable, stepped gable, gambrel gable, pediment (dengan entablure).  Serta penggunaan Tower pada bangunan Pengunaan tower pada mulanya digunakan pada bangunan gereja kemudian diambil alih oleh bangunan umum dan menjadi mode pada arsitektur kolonial Belanda pada abad ke 20. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari yang bulat, segiempat dan ada yang dikombinasikan dengan gevel depan. Serta penggunaaan Dormer pada bangunan. Penyesuaian bangunan terhadap iklim tropis basah  seperti pemilihan bentuk ventilasi yang lebar dan tinggi, sebagai antisipasi dari hujan dan sinar matahari.
KOMBINASI ARSITEKTUR
            Tahun 1920 sampai tahun 1940-an Gerakan pembaharuan dalam arsitektur baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini mempengaruhi arsitektur kolonial Belanda di Indonesia.
Pada awal abad 20, arsitek-arsitek yang baru datang dari negeri Belanda memunculkan pendekatan untuk rancangan arsitektur di Hindia Belanda. Aliran baru ini, semula masih memegang unsur-unsur mendasar bentuk klasik, memasukkan unsur-unsur yang terutama dirancang untuk mengantisipasi matahari,  hujan lebat dan iklim tropis.
            Selain unsur-unsur arsitektur tropis, juga memasukkan unsur-unsur arsitektur tradisional (asli) Indonesia sehingga menjadi konsep yang eklektis. Konsep ini nampak pada karya Maclaine Pont seperti kampus Technische Hogeschool (ITB), Gereja Poh sarang di Kediri. Hal ini menjadi bukti telah terjadi kombinasi gaya-gaya arsitektur dalam perjalanan perjalanan rancang bangun di Indonesia, antara arsitektur kolonial dengan arsitektur lokal, baik yang berasa dari pulau Sumatera, Jawa,  Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Ambon dan Papua serta kota-kota lainnya.  Hasil perpaduan dari gaya arsitektur tersebut hingga saat ini masih dapat dinikmati sebagai obyek budaya dan pendidikan sekaligus bukti sejarah perkembangan bangsa.
           
PERIODISASI PERKEMBANGAN ARSITEKTUR KOLONIAL BELANDA
            Karakteristik Arsitektur Kolonial Belanda dapat dilihat dari segi periodisasi perkembangan arsitekturnya serta dapat pula ditinjau dari berbagai elemen ornamen yang digunakan bangunan kolonial tersebut. Periodisasi Arsitektur Kolonial Belanda
Helen Jessup dalam Handinoto (1996: 129-130) membagi periodisasi perkembangan arsitektur kolonial Belanda di Indonesia dari abad ke 16 sampai tahun 1940-an menjadi empat bagian, yaitu:
1.        Abad 16 sampai tahun 1800-an
            Pada waktu ini Indonesia masih disebut sebagai Nederland Indische (Hindia Belanda) di bawah kekuasaan perusahaan dagang Belanda yang bernama VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Selama periode ini arsitektur kolonial Belanda kehilangan orientasinya pada bangunan tradisional di Belanda serta tidak mempunyai suatu orientasi bentuk yang jelas. Yang lebih buruk lagi, bangunan-bangunan tersebut tidak diusahakan untuk beradaptasi dengan iklim dan lingkungan setempat.
2.        Tahun 1800-an sampai tahun 1902
            Ketika itu, pemerintah Belanda mengambil alih Hindia Belanda dari perusahaan dagang VOC. Setelah pemerintahan Inggris yang singkat pada tahun 1811-1815. Hindia Belanda kemudian sepenuhnya dikuasai oleh Belanda. Indonesia waktu itu diperintah dengan tujuan untuk memperkuat kedudukan ekonomi negeri Belanda. Oleh sebab itu, Belanda pada abad ke-19 harus memperkuat statusnya sebagai kaum kolonialis dengan membangun gedung-gedung yang berkesan grandeur (megah). Bangunan gedung dengan gaya megah ini dipinjam dari gaya arsitektur neo-klasik yang sebenarnya berlainan dengan gaya arsitektur nasional Belanda waktu itu.
3.        Tahun 1902-1920-an
            Antara tahun 1902 kaum liberal di negeri Belanda mendesak apa yang dinamakan politik etis untuk diterapkan di tanah jajahan. Sejak itu, pemukiman orang Belanda tumbuh dengan cepat. Dengan adanya suasana tersebut, maka “indische architectuur” menjadi terdesak dan hilang. Sebagai gantinya, muncul standar arsitektur yang berorientasi ke Belanda. Pada 20 tahun pertama inilah terlihat gaya arsitektur modern yang berorientasi ke negeri Belanda.
4.        Tahun 1920 sampai tahun 1940-an
            Pada tahun ini muncul gerakan pembaruan dalam arsitektur, baik nasional maupun internasional di Belanda yang kemudian memengaruhi arsitektur kolonial di Indonesia. Hanya saja arsitektur baru tersebut kadang-kadang diikuti secara langsung, tetapi kadang-kadang juga muncul gaya yang disebut sebagai ekletisisme (gaya campuran). Pada masa tersebut muncul arsitek Belanda yang memandang perlu untuk memberi ciri khas pada arsitektur Hindia Belanda. Mereka ini menggunakan kebudayaan arsitektur tradisional Indonesia sebagai sumber pengembangannya.
 

 .

 
     Gambar 2.1 Arsitektur Kolonial
            Hampir serupa dengan Helen Jessup, Handinoto (1996: 130-131) membagi periodisasi arsitektur kolonial di Surabaya ke dalam tiga periode, yaitu:
  1) perkembangan arsitektur antara tahun 1870-1900;
  2) perkembangan arsitektur sesudah tahun 1900;
  3) perkembangan arsitektur setelah tahun 1920.
Perkembangan arsitektur kolonial Belanda tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.      Perkembangan Arsitektur Antara Tahun 1870-1900
            Akibat kehidupan di Jawa yang berbeda dengan cara hidup masyarakat Belanda di negeri Belanda maka di Hindia Belanda (Indonesia) kemudian terbentuk gaya arsitektur tersendiri. Gaya tersebut sebenarnya dipelopori oleh Gubernur Jenderal HW. Daendels yang datang ke Hindia Belanda (1808-1811). Daendels adalah seorang mantan jenderal angkatan darat Napoleon, sehingga gaya arsitektur yang didirikan Daendels memiliki ciri khas gaya Perancis, terlepas dari kebudayaan induknya, yakni Belanda.
            Gaya arsitektur Hindia Belanda abad ke-19 yang dipopulerkan Daendels tersebut kemudian dikenal dengan sebutan The Empire Style. Gaya ini oleh Handinoto juga dapat disebut sebagai The Dutch Colonial. Gaya arsitektur The Empire Style adalah suatu gaya arsitektur neo-klasik yang melanda Eropa (terutama Prancis, bukan Belanda) yang diterjemahkan secara bebas. Hasilnya berbentuk gaya Hindia Belanda (Indonesia) yang bergaya kolonial, yang disesuaikan dengan lingkungan lokal dengan iklim dan tersedianya material pada waktu itu (Akihary dalam Handinoto, 1996: 132). Ciri-cirinya antara lain: denah yang simetris, satu lantai dan ditutup dengan atap perisai. Karakteristik lain dari gaya ini diantaranya: terbuka, terdapat pilar di serambi depan dan belakang, terdapat serambi tengah yang menuju ke ruang tidur dan kamar-kamar lain. Ciri khas dari gaya arsitektur ini yaitu adanya barisan pilar atau kolom (bergaya Yunani) yang menjulang ke atas serta terdapat gevel dan mahkota di atas serambi depan dan belakang. Serambi belakang seringkali digunakan sebagai ruang makan dan pada bagian belakangnya dihubungkan dengan daerah servis (Handinoto, 1996: 132-133).
2.      Perkembangan Arsitektur Sesudah Tahun 1900
            Handinoto (1996: 163) menyebutkan bahwa, bentuk arsitektur kolonial Belanda di Indonesia sesudah tahun 1900 merupakan bentuk yang spesifik. Bentuk tersebut merupakan hasil kompromi dari arsitektur modern yang berkembang di Belanda pada waktu yang bersamaan dengan penyesuaian iklim tropis basah Indonesia. Ada juga beberapa bangunan arsitektur kolonial Belanda yang mengambil elemen-elemen tradisional setempat yang kemudian diterapkan ke dalam bentuk arsitekturnya. Hasil keseluruhan dari arsitektur kolonial Belanda di Indonesia tersebut adalah suatu bentuk khas yang berlainan dengan arsitektur modern yang ada di Belanda sendiri.
            Handinoto (1996: 151-163) juga menguraikan bahwa, kebangkitan arsitektur Belanda sebenarnya dimulai dari seorang arsitek Neo-Gothik, PJH. Cuypers (1827-1921) yang kemudian disusul oleh para arsitek dari aliran Niuwe Kunst (Art Nouveau gaya Belanda) HP. Berlage (185-1934) dan rekan-rekannya seperti Willem Kromhout (1864-1940), KPC. De Bazel (1869-1928), JLM. Lauweriks (1864-1932), dan Edward Cuypers (1859-1927). Gerakan Nieuw Kunst yang dirintis oleh Berlage di Belanda ini kemudian melahirkan dua aliran arsitektur modern yaitu The Amsterdam School serta aliran De Stijl. Adapun penjelasan mengenai arsitektur Art Nouveau, The Amsterdam School dan De Stijl dapat dijabarkan sebagai berikut:
a.       Art Nouveau
                 Art Nouveau adalah gerakan internasional dan gaya seni arsitektur dan diterapkan terutama pada seni-seni dekoratif yang memuncak pada popularitas di pergantian abad 20 (1890-1905). Nama Art Nouveau adalah bahasa Perancis untuk ‘seni baru’. Gaya ini ditandai dengan bentuk organik, khususnya yang diilhami motif-motif bunga dan tanaman lain, dan juga sangat bergaya bentuk-bentuk lengkung yang mengalir. Gaya Art Nouveau dan pendekatannya telah diterapkan dalam hal arsitektur, melukis, furnitur, gelas, desain grafis, perhiasan, tembikar, logam, dan tekstil dan patung. Hal ini sejalan dengan filosofi Art Nouveau bahwa seni harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. (sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Art_Nouveau).
b.      The Amsterdam School
                 Arsitektur Amsterdam School, yang pada awalnya berkembang disekitar Amsterdam, berakar pada sebuah aliran yang dinamakan sebagai Nieuwe Kunst di Belanda. Nieuwe Kunst adalah versi Belanda dari aliran “Art Nouveau” yang masuk ke Belanda pada peralihan abad 19 ke 20, (1892-1904). Agak berbeda dengan ‘Art Nouveau‘, didalam dunia desain “Nieuwe Kunst” yang berkembang di Belanda, berpegang pada dua hal yang pokok, pertama adalah ‘orisinalitas’ dan kedua adalah ‘spritualitas’, disamping rasionalitas yang membantu dalam validitas universal dari bentuk yang diciptakan (de Wit dalam Handinoto, e-journal ilmiah Petra Surabaya).
                 Aliran Amsterdam Shool menafsirkan ‘orisinalitas’ ini sebagai sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap perancang, sehingga setiap desain yang dihasilkan, harus merupakan ekspresi pribadi perancangnya. Sedangkan ‘spritualitas’ ditafsirkan sebagai metode penciptaan yang didasarkan atas penalaran yang bisa menghasilkan karya-karya seni (termasuk arsitektur), dengan memakai bahan dasar yang berasal dari alam (bata, kayu, batu alam, tanah liat, dsb.nya). Bahan-bahan alam tersebut dipasang dengan ketrampilan tangan yang tinggi sehingga memungkinkan dibuatnya bermacam-macam ornamentasi yang indah. Tapi semuanya ini harus tetap memperhatikan fungsi utamanya.
                 Pada tahun 1915, ‘Nieuwe Kunst’ ini kemudian terpecah menjadi dua aliran. Pertama yaitu aliran Amsterdam School dan yang kedua adalah De Stijl. Meskipun berasal dari sumber yang sama dan mempunyai panutan yang sama (H.P. Berlage), tapi ternyata kedua aliran arsitektur ini mempunyai perbedaan. Perbedaan tersebut dapat dijelaskan bahwa Amsterdam School tidak pernah menerima mesin sebagai alat penggandaan hasil karya-karyanya. Hal ini berbeda dengan De Stijl, yang menganggap hasil karya dengan gaya tersebut sebagai nilai estetika publik atau estetika universal, dan bisa menerima mesin sebagai alat pengganda karya-karyanya.
                 Pengertian lain mengenai Amsterdam School (Belanda: Amsterdamse School) adalah gaya arsitektur yang muncul dari 1910 sampai sekitar 1930 di Belanda. Gaya ini ditandai oleh konstruksi batu bata dan batu dengan penampilan bulat atau organik, massa relatif tradisional, dan integrasi dari skema yang rumit pada elemen bangunan luar dan dalam: batu dekoratif, seni kaca, besi tempa, menara atau “tangga” jendela (dengan horizontal bar), dan diintegrasikan dengan sculpture arsitektural. Tujuannya adalah untuk menciptakan pengalaman total arsitektur, interior dan eksterior. (sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Amsterdam_School) Di samping karakteristik diatas, ciri-ciri lain dari aliran Amsterdam School oleh Handinoto (dalam e-journal ilmiah Petra Surabaya), antara lain :
1)      Bagi Amsterdam School, karya orisinalitas merupakan sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap perancang, sehingga setiap desain yang dihasilkan, harus merupakan ekspresi pribadi perancangnya. Nilai estetika dari karya-karya aliran Amsterdam School bukan bersifat publik atau estetika universal. Itulah sebabnya Amsterdam School tidak pernah menerima mesin sebagai alat penggandaan hasil karyanya.
2)      Bagi Amsterdam School mengekspresikan ide dari suatu gagasan lebih penting dibanding suatu studi rasional atas kebutuhan perumahan ke arah pengembangan baru dari jenis denah lantai dasar suatu bangunan.
3)      Arsitek dan desainer dari aliran Amsterdam School melihat bangunan sebagai “total work of art”, mereka melihat bahwa desain interior harus mendapat perhatian yang sama sebagai gagasan yang terpadu dalam arsitektur itu sendiri, dan hal tersebut sama sekali bukan merupakan hasil kerja atau produk mekanis. Pada saat yang sama, mereka berusaha untuk memadukan tampak luar dan bagian dalam (interior) bangunan menjadi suatu kesatuan yang utuh.
4)      Bangunan dari aliran Amsterdam School biasanya dibuat dari susunan bata yang dikerjakan dengan keahlian tangan yang tinggi dan bentuknya sangat plastis; ornamen skulptural dan diferensiasi warna dari bahan-bahan asli (bata, batu alam, kayu) memainkan peran penting dalam desainnya.
5)      Walaupun arsitek aliran Amsterdam School sering bekerja sama dengan pemahat dan ahli kerajinan tangan lainnya, mereka menganggap arsitektur sebagai unsur yang paling utama dan oleh karenanya harus sanggup mendikte semua seni yang lain.
(Sumber:http://fportfolio.petra.ac.id/ e-jurnal ilmiah Petra Surabaya).
c.       Gaya Arsitektur De Stijl
                 Gaya De Stijl dikenal sebagai neoplasticism, adalah gerakan artistik Belanda yang didirikan pada 1917. Dalam hal ini, neoplasticism sendiri dapat diartikan sebagai seni plastik baru. Pendukung De Stijl berusaha untuk mengekspresikan utopia baru ideal dari keharmonisan spiritual dan ketertiban. Mereka menganjurkan abstraksi murni dan universalitas dengan pengurangan sampai ke inti bentuk dan warna; mereka menyederhanakan komposisi visual ke arah vertikal dan horisontal, dan hanya digunakan warna-warna primer bersamaan dengan warna hitam dan putih.
                 Secara umum, De Stijl mengusulkan kesederhanaan dan abstraksi pokok, baik dalam arsitektur dan lukisan dengan hanya menggunakan garis lurus horisontal dan vertikal dan bentuk-bentuk persegi panjang. Selanjutnya, dari segi warna adalah terbatas pada warna utama, merah, kuning, dan biru, dan tiga nilai utama, hitam, putih, dan abu-abu. Gaya ini menghindari keseimbangan simetri dan mencapai keseimbangan estetis dengan menggunakan oposisi. (sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/De_Stijl)
3.        Perkembangan Arsitektur Setelah Tahun 1920
            Akihary (dalam Handinoto, 1996: 237-238) menggunakan istilah gaya bangunan sesudah tahun 1920-an dengan nama Niuwe Bouwen yang merupakan penganut dari aliran International Style. Seperti halnya arsitektur barat lain yang diimpor, maka penerapannya disini selalu disesuaikan dengan iklim serta tingkat teknologi setempat. Wujud umum dari dari penampilan arsitektur Niuwe Bouwen ini menurut formalnya berwarna putih, atap datar, menggunakan gevel horizontal dan volume bangunan yang berbentuk kubus.
            Gaya ini (Niuwe Bouwen/ New Building) adalah sebuah istilah untuk beberapa arsitektur internasional dan perencanaan inovasi radikal dari periode 1915 hingga sekitar tahun 1960. Gaya ini dianggap sebagai pelopor dari International Style. Istilah “Nieuwe Bouwen” ini diciptakan pada tahun dua puluhan dan digunakan untuk arsitektur modern pada periode ini di Jerman, Belanda dan Perancis. Arsitek Nieuwe Bouwen nasional dan regional menolak tradisi dan pamer dan penampilan. Dia ingin yang baru, bersih, berdasarkan bahasa desain sederhana, dan tanpa hiasan. Karakteristik Nieuwe Bouwen meliputi:
a.       Transparansi, ruang, cahaya dan udara. Hal ini dicapai melalui penggunaan bahan-bahan modern dan metode konstruksi.
b.      Simetris dan pengulangan yaitu keseimbangan antara bagian-bagian yang tidak setara.
c.       Penggunaan warna bukan sebagai hiasan namun sebagai sarana ekspresi.
               
 
 
 
 
(blog.juned.maroz)
ABSTRAK Tulisan ini merupakan kajian mengenai perubahan arsitektur sebagai bagian dari perubahan kebudayaan pada masyarakat tertentu dengan mengambil kasus Rumah Tradisional di Kota Lama Kudus. Arsitektur sebagai artefak kebudayaan berperan penting dalam memberikan ciri kebudayaan setempat, namun ketika kebudayaan masyarakat kemudian berkembang, apakah artefaknya juga akan mengikuti perkembangan tersebut?. Tulisan ini membahas tentang kebudayaan, kaitannya dengan arsitektur dan bagaimana perubahannya pada masyarakat pesisir Jawa, khususnya Kudus. Kebudayaan merupakan keseluruhan gagasan, karya serta hasil karya manusia yang dicapai melalui ‘belajar’. Kebudayaan juga merupakan hasil adaptasi manusia terhadap lingkungannya. Sebagai hasil belajar dan beradaptasi, kebudayaan akan terus berubah mengikuti perkembangan jaman. Dari nilai-nilai kebudayaan yang berkembang tersebut terdapat unsur-unsur yang yang berkembang secara cepat, adapula yang berkembang secara lambat, menjadi tradisi. Kebudayaan tradisional meskipun berkembang namun tetap mempertahankan karakter intinya yang diturunkan antar generasi. Kebudayaan yang mentradisi menjadi karakter kuat suatu masyarakat pada tempat tertentu, salah satunya akan terlihat pada artefaknya, arsitektur tradisional. Kebudayaan masyarakat Kudus merupakan bagian dari kebudayaan pesisiran Jawa. Satu ragam kebudayaan Jawa yang berkembang di kota-kota perdagangan di pantai utara Jawa. Kudus dikenal sebagai masyarakat pedagang santri. Perkembangan kebudayaan masyarakat Kudus dari sejarah berdirinya sampai saat ini sangat dinamis dan menarik dipelajari. Sebagaimana kebudayaannya yang khas, bentukan arsitektur permukiman masyarakat Kudus menunjukkan ciri yang kuat, baik pada tata lingkungan permukiman, kelompok rumah sampai pada elemen bangungan rumah tinggalnya. Ciri yang kuat pada arsitektur tradisional rumah tinggal masyarakat Kudus tak pelak mencerminkan Kebudayaannya yang khas pula. Dengan merujuk pada data sejarah kota Kudus dan mencermati artefak yakni arsitektur rumah tradisional Kudus, dicoba diinterpretasikan tahapan perkembangan arsitektur dalam perubahan kebudayaan masyarakat Kudus.

Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin

PENGARUH KEBUDAYAAN KOLONIAL BELANDA PADA ARSITEKTUR DI INDONESIA

ABSTRAK Tulisan ini merupakan kajian mengenai perubahan arsitektur sebagai bagian dari perubahan kebudayaan pada masyarakat tertentu dengan mengambil kasus Rumah Tradisional di Kota Lama Kudus. Arsitektur sebagai artefak kebudayaan berperan penting dalam memberikan ciri kebudayaan setempat, namun ketika kebudayaan masyarakat kemudian berkembang, apakah artefaknya juga akan mengikuti perkembangan tersebut?. Tulisan ini membahas tentang kebudayaan, kaitannya dengan arsitektur dan bagaimana perubahannya pada masyarakat pesisir Jawa, khususnya Kudus. Kebudayaan merupakan keseluruhan gagasan, karya serta hasil karya manusia yang dicapai melalui ‘belajar’. Kebudayaan juga merupakan hasil adaptasi manusia terhadap lingkungannya. Sebagai hasil belajar dan beradaptasi, kebudayaan akan terus berubah mengikuti perkembangan jaman. Dari nilai-nilai kebudayaan yang berkembang tersebut terdapat unsur-unsur yang yang berkembang secara cepat, adapula yang berkembang secara lambat, menjadi tradisi. Kebudayaan tradisional meskipun berkembang namun tetap mempertahankan karakter intinya yang diturunkan antar generasi. Kebudayaan yang mentradisi menjadi karakter kuat suatu masyarakat pada tempat tertentu, salah satunya akan terlihat pada artefaknya, arsitektur tradisional. Kebudayaan masyarakat Kudus merupakan bagian dari kebudayaan pesisiran Jawa. Satu ragam kebudayaan Jawa yang berkembang di kota-kota perdagangan di pantai utara Jawa. Kudus dikenal sebagai masyarakat pedagang santri. Perkembangan kebudayaan masyarakat Kudus dari sejarah berdirinya sampai saat ini sangat dinamis dan menarik dipelajari. Sebagaimana kebudayaannya yang khas, bentukan arsitektur permukiman masyarakat Kudus menunjukkan ciri yang kuat, baik pada tata lingkungan permukiman, kelompok rumah sampai pada elemen bangungan rumah tinggalnya. Ciri yang kuat pada arsitektur tradisional rumah tinggal masyarakat Kudus tak pelak mencerminkan Kebudayaannya yang khas pula. Dengan merujuk pada data sejarah kota Kudus dan mencermati artefak yakni arsitektur rumah tradisional Kudus, dicoba diinterpretasikan tahapan perkembangan arsitektur dalam perubahan kebudayaan masyarakat Kudus.

Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin
ABSTRAK Tulisan ini merupakan kajian mengenai perubahan arsitektur sebagai bagian dari perubahan kebudayaan pada masyarakat tertentu dengan mengambil kasus Rumah Tradisional di Kota Lama Kudus. Arsitektur sebagai artefak kebudayaan berperan penting dalam memberikan ciri kebudayaan setempat, namun ketika kebudayaan masyarakat kemudian berkembang, apakah artefaknya juga akan mengikuti perkembangan tersebut?. Tulisan ini membahas tentang kebudayaan, kaitannya dengan arsitektur dan bagaimana perubahannya pada masyarakat pesisir Jawa, khususnya Kudus. Kebudayaan merupakan keseluruhan gagasan, karya serta hasil karya manusia yang dicapai melalui ‘belajar’. Kebudayaan juga merupakan hasil adaptasi manusia terhadap lingkungannya. Sebagai hasil belajar dan beradaptasi, kebudayaan akan terus berubah mengikuti perkembangan jaman. Dari nilai-nilai kebudayaan yang berkembang tersebut terdapat unsur-unsur yang yang berkembang secara cepat, adapula yang berkembang secara lambat, menjadi tradisi. Kebudayaan tradisional meskipun berkembang namun tetap mempertahankan karakter intinya yang diturunkan antar generasi. Kebudayaan yang mentradisi menjadi karakter kuat suatu masyarakat pada tempat tertentu, salah satunya akan terlihat pada artefaknya, arsitektur tradisional. Kebudayaan masyarakat Kudus merupakan bagian dari kebudayaan pesisiran Jawa. Satu ragam kebudayaan Jawa yang berkembang di kota-kota perdagangan di pantai utara Jawa. Kudus dikenal sebagai masyarakat pedagang santri. Perkembangan kebudayaan masyarakat Kudus dari sejarah berdirinya sampai saat ini sangat dinamis dan menarik dipelajari. Sebagaimana kebudayaannya yang khas, bentukan arsitektur permukiman masyarakat Kudus menunjukkan ciri yang kuat, baik pada tata lingkungan permukiman, kelompok rumah sampai pada elemen bangungan rumah tinggalnya. Ciri yang kuat pada arsitektur tradisional rumah tinggal masyarakat Kudus tak pelak mencerminkan Kebudayaannya yang khas pula. Dengan merujuk pada data sejarah kota Kudus dan mencermati artefak yakni arsitektur rumah tradisional Kudus, dicoba diinterpretasikan tahapan perkembangan arsitektur dalam perubahan kebudayaan masyarakat Kudus.

Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin